Kado untuk Emak
Pagi itu Ahmad dan emaknya menumpang truk Pak Kolil. Mereka berdua akan pergi ke kota. Kebetulan Pak Kolil mengambil pasir di sungai dekat rumah Ahmad dan akan dikirim ke kota. Ahmad sudah sangat akrab dengan sopir truk itu. Pak Kolil adalah langganan tetap Pak Wiro. Sepulang sekolah, Ahmad selalu membantu Paman Wiro mencari pasir di sungai, sambil menggembalakan itik.
“Kabarnya kau kemarin ke Jakarta, Mad?” tanya Pak Kolil dalam perjalanan.
“Ya. Mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat tingkat nasional Pak,” jawab Ahmad.
‘‘Pamanmu tadi bilang, kau menjuarai lomba itu?’’
Ahmad tersenyum sambil mengangguk. Emaknya menyahut, “Tentu berkat doa Pak Kolil,” katanya sambil tersenyum.
“Ha, ha, ha, ha, .. syukurlah kau jadi anak pintar. Aku turut bangga,” kata sopir truk itu tertawa,
“Berapa ratus ribu hadiahnya, Mad?”
“Ah. tidak begitu banyak,Pak,” jawab Ahmad.
Ia jadi teringat uang di sakunya sejumlah seratus lima puluh ribu. Sebagian dari uang itu hadiah lomba di Jakarta, ditambah hasil penjualan telur itik dan hasil kerja membantu Paman Wiro mencari pasir. Uang itu ia tabung sejak dua tahun lalu, mudah-mudahan cukup untuk membeli sebuah mesin jahit untuk Emak, pikirnya.
Sehari-harinya Emak bekerja membantu menjahit baju di tempat Bu Ina, tetangganya. Itunya sebabnya sejak beberapa tahun lalu Ahmad sangat ingin membelikan Emak mesin jahit agar Emak bisa bekerja mandiri menerima jahitan.
“Mad, kita sudah sampai. Pasir akan ku turunkan di sini. Di sebelah itu akan dibangun sebuah Bank, nanti kau bisa menabung di situ,” Jawab Pak Kolil.
“Oh ya, terima kasih, Pak,” jawab Ahmad.
“Oh ya, Toko Harapan terletak di ujung jalan sana. Bisa naik becak atau jalan kaki,” jelas Pak Kolil, karena tadi Ahmad mengatakan akan mengantar Emaknya ke toko Harapan.” Dan nanti pulangnya sama-sama aku lagi. Ku tunggu di sini!’’ Ahmad dan Emaknya mengangguk. Mereka lalu berjalan kaki menyusuri trotoar, melewati sebuah universitas. Langkah Ahmad tiba-tiba terhenti, ia menatap emaknya sedang menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya.
“Kenapa, Mak?” Emak mabuk naik truk tadi ?” Tanya Ahmad sedikit cemas.
“Tidak. Emak hanya teringat ayahmu. Dulu, ayahmu ikut membangun gedung universitas itu. Apa kau besok juga sempat belajar di situ?’’ gumam emak lirih, ia teringat pada Ahmad sudah harus membantunya menceri nafkah dan biaya sekolah.
“Entah, Mak,” jawab Ahmad tertunduk
Emaknya memang sering bercerita tentang almarhum ayahnya yang seorang tukang batu terampil. Ayah sering diajak para pemborong membangun berbagai gedung di kota bahkan emak juga sering memuji Ahmad yang semangat kerjanya sangat mirip sekali dengan ayah.
“Ayolah, Mak kita ke toko itu !” Ahmad menggandeng tangan emaknya.
Di toko Harapan terdapat berbagai macam mesin jahit dan yang harganya murah hingga yang palinng mahal. Mereka berdua akhirnya,memilih mesin jahit bermerek Butterfly seperti milik Bu Ina yang biasa dipakai emak setiap hari.
“Ini kado ulang tahun untuk Emak, selamat ulang tahun semoga panjang umur ,” kata Ahmad menyalami Emaknya.
Wanita itu kaget. Ia baru ingat kalau hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang key-47. Diusapnya rambut Ahmad dengan penuh kasih sayang, hampir saja air matanya jatuh karena haru.
“Barangnya nanti sore akan diantar, Dik,” ujar petugas toko saat Ahmad membayar di kasir. Langkah Ahmad terasa begitu ringan saat keluar dari took itu. Hatinya lega karena apa yang diinginkannya selama ini sudah tercapai. Jika saja ia tidak rajin belajar dan memenangkan lomba di Jakarta, keinginan itu tentu masih tertunda entah berapa tahun lagi.
Dalam hati Ahmad berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan karena kemurahan-Nyalah ia dapat memberikan kado kepada emaknya, semoga dengan kado mesin jahit itu emaknya bisa bekerja mandiri seperti pesan almarhum ayahnya sebelum meniggal.
“Lo, kau beli apa, Mad? Kok tidak membawa apa-apa?” tanya Pak Kolil yang sudah cukup lama menunggu mereka berdua.
‘’Ini Pak Kolil, Ahmad akan membelikan aku mesin jahit,’’ kata emaknya menjelaskan.Nanti mesinnya diantarkan toko itu ke rumah.
“Ha…, ha…, ha…,ha…, bagus, Mad. Biar emakmu besok buka usaha jahitan di rumah,” kata Pak Kolil tertawa senang.
Ahmad tersenyum. Mereka kemudian menuju ke truk yang sudah kosong muatannya karena pasir telah diturunkan. Pak Kolil membuka pintu truknya dan mengambil dua bungkusan yang terletak di depan stir.
“Mad, aku juga turut bangga atas prestasimu memenangkan lomba di Jakarta. Nah, ini sepatu dan tas sekolah sebagai kenang-kenangan untukmu. Tetaplah rajin belajar dan selalu membantu emakmu !’’ kata Pak Kolil sambil menepuk bahu Ahmad.
’’Terima kasih, Pak,’’ ujar Ahmad. Pak Kolil memang menganggap Ahmad sperti anak sendiri. Pak Kolil pernah bercerita tentang Arief, anak satu-satunya. Jika saja anak itu dikaruniai umur panjang sekarang pasti sudah sebaya dengan Ahmad. Sayang, Arief waktu masih kecil menderita polio hingga akhirnya meninggal, sampai sekarang Pak Kolil belum dikaruniai anak lagi.
Truk itu pun beranjak perlahan-lahan meninggalkan kota.